Salah satu hal yang sering membuat orang tua terkejut ketika pertama kali mengenal Numa Montessori Studio adalah durasi kelas kami yang hanya 1 jam 30 menit.

Tidak ada circle time yang panjang.
Tidak ada kegiatan bersama yang berlangsung terus-menerus.
Dan tidak semua anak melakukan aktivitas yang sama pada waktu yang sama.

Lalu muncul pertanyaan yang sangat wajar:

“Apakah waktu sesingkat itu cukup?”
“Bagaimana anak belajar bersosialisasi?”
“Mengapa tidak ada sesi berkumpul seperti di sekolah pada umumnya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu lahir dari kepedulian orang tua yang ingin memastikan anak mendapatkan pengalaman belajar terbaik.

Untuk menjawabnya, kita perlu melihat terlebih dahulu bagaimana Montessori memandang proses perkembangan anak.

Anak Tidak Tumbuh Hanya Karena Diajar

Dalam pendidikan tradisional, pembelajaran sering dipahami sebagai proses ketika guru memberikan informasi dan anak menerimanya.

Namun, Montessori memandang anak dengan cara yang berbeda.

Anak membangun dirinya melalui pengalaman.

Saat tangannya bergerak, pikirannya bekerja. Saat ia memilih, mencoba, mengulang, memperbaiki kesalahan, dan menemukan keberhasilan melalui usahanya sendiri, di situlah proses perkembangan berlangsung.

Perkembangan anak tidak hanya terjadi ketika orang dewasa berbicara atau memberikan instruksi.

Perkembangan terjadi ketika anak mendapatkan kesempatan untuk melakukan pekerjaannya sendiri.

Inilah salah satu alasan mengapa sebagian besar waktu di Numa didedikasikan untuk work cycle, periode ketika anak memiliki kesempatan untuk memilih aktivitas sesuai dengan kebutuhan dan minat perkembangannya.

Mengapa Tidak Ada Circle Time?

Bukan berarti circle time adalah kegiatan yang buruk.

Namun, dalam lingkungan Montessori, setiap kegiatan perlu memiliki tujuan dan ditempatkan pada waktu yang tepat.

Ketika waktu belajar terbatas, kami memilih untuk memberikan sebanyak mungkin kesempatan kepada anak untuk bekerja, mengeksplorasi, dan membangun konsentrasi secara mandiri.

Di usia dini, setiap anak sedang berada dalam perjalanan perkembangan yang unik.

Ada anak yang sedang memiliki ketertarikan besar pada bahasa.
Ada yang sedang membangun koordinasi gerak.
Ada yang sedang belajar tentang keteraturan.
Ada pula yang sedang mengembangkan kemampuan berkonsentrasi.

Jika seluruh anak diminta melakukan aktivitas yang sama pada waktu yang sama, kebutuhan individual tersebut terkadang harus menunggu.

Montessori memilih pendekatan yang berbeda.

Anak diberikan ruang untuk mengikuti kebutuhan perkembangan yang sedang muncul dalam dirinya.

Karena setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda.

1 Jam 30 Menit yang Dirancang dengan Sadar

Durasi kelas di Numa bukanlah angka yang dipilih secara kebetulan.

Waktu 1 jam 30 menit dirancang agar anak memiliki kesempatan untuk:

  • Datang dan beradaptasi dengan lingkungan.
  • Memilih pekerjaan secara mandiri.
  • Mengulangi aktivitas yang menarik perhatiannya.
  • Membangun konsentrasi.
  • Menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang.

Bagi orang dewasa, 1 jam 30 menit mungkin terasa singkat.

Namun bagi anak yang sedang bekerja dengan penuh konsentrasi, waktu tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang sangat bermakna.

Jika waktu terlalu singkat, anak mungkin belum sempat benar-benar masuk ke dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, terlalu banyak interupsi juga dapat memutus konsentrasi yang sedang dibangun.

Padahal dalam Montessori, konsentrasi merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan anak.

Dari konsentrasi, anak perlahan membangun ketekunan, pengendalian diri, kemampuan belajar, dan rasa percaya diri.

Kami Lebih Memilih Kedalaman daripada Keramaian

Dalam pendidikan anak usia dini, sebuah kelas yang penuh aktivitas, suara, dan kegiatan yang silih berganti mungkin terlihat sangat menarik.

Namun Montessori mengajak kita untuk melihat lebih dalam.

Seorang anak yang duduk tenang dan menuang air selama sepuluh menit mungkin terlihat seperti sedang melakukan aktivitas sederhana.

Padahal, di balik aktivitas tersebut, ia sedang membangun banyak kemampuan:

koordinasi gerakan, fokus perhatian, ketelitian, kesabaran, dan kemandirian.

Perkembangan yang penting tidak selalu terlihat spektakuler.

Tidak selalu menghasilkan karya yang bisa dibawa pulang.

Tidak selalu terlihat ramai.

Tetapi justru dalam suasana yang tenang, banyak fondasi penting sedang dibangun  fondasi yang akan mendukung proses belajar anak di masa depan.

Lalu, Bagaimana dengan Sosialisasi?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah:

“Kalau anak tidak sering melakukan kegiatan bersama, bagaimana ia belajar bersosialisasi?”

Dalam Montessori, hubungan sosial yang sehat tidak harus dibangun melalui kegiatan berkumpul secara terus-menerus.

Sosialisasi dapat tumbuh melalui pengalaman sehari-hari di lingkungan yang mendukung.

Di Numa, anak belajar berinteraksi ketika:

  • Menunggu giliran menggunakan material.
  • Berbagi ruang kerja dengan teman.
  • Menawarkan bantuan.
  • Menghormati pekerjaan teman.
  • Mengamati teman yang sedang bekerja.
  • Duduk bersama saat makan.
  • Belajar menyelesaikan konflik dengan pendampingan orang dewasa.

Dengan demikian, sosialisasi bukan sekadar sebuah kegiatan yang dijadwalkan.

Sosialisasi menjadi bagian dari kehidupan anak di dalam lingkungan Montessori.

Kami tidak memaksa anak untuk terus-menerus berkumpul agar mereka dapat belajar bersosialisasi.

Kami menciptakan lingkungan di mana anak memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara alami.

Karena hubungan yang sehat tidak hanya lahir dari instruksi, tetapi dari pengalaman hidup bersama.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Kami Kejar?

Di Numa, kami tidak mengejar sebanyak apa aktivitas yang dapat dilakukan anak dalam satu sesi.

Kami juga tidak mengejar hasil yang terlihat dengan cepat.

Kami tidak mengejar kesibukan.

Yang kami harapkan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar:

Seorang anak yang mampu berkonsentrasi.

Seorang anak yang percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Seorang anak yang menemukan kegembiraan dalam belajar.

Dan perlahan, seorang anak yang mampu berkata:

“Aku bisa melakukannya sendiri.”

Untuk membangun hal-hal besar tersebut, anak tidak selalu membutuhkan kelas yang lebih lama.

Bukan pula lebih banyak kegiatan bersama.

Yang dibutuhkan adalah waktu yang cukup, lingkungan yang tepat, dan penghormatan terhadap ritme perkembangan setiap anak.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ajarkan kepada anak.

Pendidikan adalah tentang seberapa besar ruang yang kita berikan kepada anak untuk membangun dirinya sendiri.

Dan mungkin, di situlah alasan mengapa 1 jam 30 menit di Numa bukan tentang “hanya” 1 jam 30 menit.

Melainkan tentang apa yang terjadi di dalam 1 jam 30 menit tersebut.