Di kelas Montessori, anak tidak selalu langsung diberikan aktivitas membaca dalam bentuk mengenalkan kata, mengeja, atau membaca buku.

Bukan karena membaca tidak penting, tetapi karena kemampuan membaca membutuhkan beberapa fondasi yang berkembang secara bertahap.

Sebelum anak siap membaca, ada banyak hal yang sedang dipersiapkan: kemampuan bahasa, kemampuan mendengar dan membedakan bunyi, koordinasi gerak, konsentrasi, serta pemahaman bahwa simbol memiliki makna.

Jadi, apa yang dilakukan anak sebelum belajar membaca?

1. Memperkaya Bahasa Terlebih Dahulu

Membaca bukan hanya tentang mengenali huruf.

Anak juga perlu memiliki pengalaman bahasa yang cukup: mendengar banyak kosakata, memahami instruksi, mengenal nama benda, mengikuti percakapan, dan mampu mengungkapkan pikirannya.

Karena itu, percakapan sederhana, membacakan buku, bernyanyi, bercerita, mengenalkan benda di sekitar, hingga aktivitas sehari-hari sebenarnya merupakan bagian penting dari persiapan membaca.

Ketika anak memiliki banyak pengalaman bahasa, ia memiliki “isi” yang nantinya akan dihubungkan dengan simbol-simbol tertulis.

2. Mengembangkan Kemampuan Mendengar Bunyi

Sebelum anak membaca sebuah kata, ia perlu memahami bahwa kata tersusun dari bunyi-bunyi.

Di Montessori, anak dapat diajak bermain dengan bunyi melalui aktivitas sederhana. Misalnya, mengenali bunyi awal sebuah kata:

“Mana yang berbunyi /m/? Mangga atau apel?”

Aktivitas seperti ini terlihat sederhana, tetapi membantu anak mulai menyadari bahwa bahasa lisan terdiri dari bunyi-bunyi yang dapat dibedakan.

Kemampuan ini menjadi salah satu fondasi penting sebelum anak menghubungkan bunyi dengan simbol.

3. Mengenal Simbol Secara Bertahap

Setelah anak memiliki kesiapan bahasa dan kesadaran terhadap bunyi, barulah pengenalan huruf menjadi lebih bermakna.

Dalam Montessori, anak tidak sekadar menghafalkan bentuk A, B, C.

Anak dikenalkan pada simbol dan bunyinya, sehingga huruf tidak hanya menjadi bentuk yang harus diingat, tetapi memiliki hubungan dengan bahasa yang sudah ia kenal.

Material seperti Sandpaper Letters dapat membantu anak mengenali bentuk huruf melalui pengalaman visual, auditori, dan taktil.

Anak melihat simbolnya, mendengar bunyinya, sekaligus merasakan bentuk huruf tersebut melalui gerakan tangan.

4. Tangan Juga Dipersiapkan untuk Menulis

Menariknya, dalam Montessori, kemampuan membaca dan menulis tidak dipisahkan secara kaku.

Sebelum anak menulis huruf, tangannya juga membutuhkan banyak pengalaman.

Menuang, memindahkan benda dengan alat, membuka dan menutup, meronce, menggunting, mengarsir, menggambar, hingga berbagai aktivitas Practical Life membantu anak mengembangkan koordinasi mata dan tangan, kontrol gerakan, serta kekuatan dan kelenturan jari.

Karena itu, ketika anak terlihat sedang “hanya” menuang air atau memindahkan benda, sebenarnya ada banyak kemampuan yang sedang dibangun.

5. Dari Bunyi dan Huruf Menuju Membaca

Ketika anak sudah memiliki fondasi yang cukup, proses membaca mulai terasa lebih alami.

Anak mulai menghubungkan:

bunyi → simbol → gabungan bunyi → kata → makna.

Pada tahap ini, anak dapat mulai menyusun bunyi menjadi kata sederhana menggunakan Moveable Alphabet, kemudian perlahan membaca kata-kata yang semakin kompleks.

Jadi, prosesnya bukan:

“Hari ini belajar huruf, besok harus bisa membaca.”

Melainkan sebuah perjalanan yang saling terhubung.

Lalu, Bagaimana Jika Anak Belum Tertarik pada Huruf?

Tidak semua anak akan menunjukkan ketertarikan pada huruf di waktu yang sama.

Ada anak yang sejak kecil senang melihat buku dan tertarik pada simbol. Ada pula yang lebih banyak bergerak, mengeksplorasi lingkungan, atau menikmati aktivitas Practical Life terlebih dahulu.

Di kelas Montessori, perbedaan ini bukan sesuatu yang harus langsung dianggap sebagai masalah.

Guru mengamati kesiapan dan minat anak, kemudian menyiapkan lingkungan serta menawarkan aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak cepat membaca, tetapi membantu anak membangun hubungan yang positif dengan bahasa, tulisan, dan proses belajar.

Jadi, Apakah Anak Montessori Pasti Akan Belajar Membaca?

Setiap anak memiliki perjalanan perkembangan yang berbeda.

Yang kami lakukan di Montessori adalah memberikan lingkungan yang kaya bahasa, menyediakan kesempatan untuk mengembangkan kesiapan membaca dan menulis, serta mendampingi anak sesuai tahap perkembangannya.

Kami tidak terburu-buru mengejar hasil hanya karena anak lain sudah lebih dahulu membaca.

Sebab bagi kami, membaca bukan sekadar kemampuan mengenali huruf dan kata.

Membaca adalah kemampuan yang tumbuh dari banyak fondasi kecil yang dibangun sebelumnya.

Dan ketika fondasinya kuat, anak tidak hanya belajar membaca.

Ia sedang belajar memahami bahasa, menemukan makna, berkonsentrasi, memecahkan masalah, dan menikmati proses menemukan sesuatu yang baru.


Di Numa Montessori Studio

Kami percaya bahwa setiap anak memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh.

Karena itu, di kelas Montessori, kami tidak hanya melihat apakah seorang anak sudah bisa membaca atau belum.

Kami melihat apa yang sudah siap, apa yang sedang berkembang, dan apa yang membutuhkan dukungan berikutnya.

Sebab sebelum anak mampu membaca sebuah kata, ada begitu banyak hal yang terlebih dahulu perlu “dibaca” oleh dirinya sendiri: suara, gerakan, lingkungan, pengalaman, dan dunia di sekitarnya.

Tumbuh bersama Numa. 🤍