“Anaknya di kelas Montessori sendiri terus, ya? Kapan sosialisasinya?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika orang tua melihat anak sedang bekerja sendiri di lingkungan Montessori.
Padahal, bekerja mandiri bukan berarti anak tidak bersosialisasi.
Di lingkungan Montessori, anak memang diberikan kesempatan untuk memilih pekerjaan, mengikuti ketertarikannya, dan membangun konsentrasi tanpa harus selalu diarahkan untuk bekerja bersama. Namun, bukan berarti seluruh aktivitas dilakukan secara individual.
Ketika Interaksi Tumbuh Secara Alami
Ada kalanya seorang anak memilih bekerja sendiri dengan tenang. Di kesempatan lain, ia mungkin mengajak temannya untuk bekerja bersama, menunjukkan hasil pekerjaannya, mengamati pekerjaan teman, atau menemukan ketertarikan yang sama dengan anak lain.
Dari sinilah interaksi sosial dapat tumbuh secara alami.
Ketika beberapa anak menunjukkan keinginan untuk bekerja bersama, fasilitator dapat hadir dan mendampingi mereka dalam sebuah kelompok kecil. Bukan karena sudah waktunya untuk “belajar kelompok”, tetapi karena anak-anak memang sedang memiliki ketertarikan dan kesiapan untuk belajar bersama.
Tidak ada paksaan untuk bergabung.
Tidak ada jadwal khusus untuk “bersosialisasi”.
Dan tidak harus semua anak mengerjakan hal yang sama pada waktu yang sama.
Karena dalam Montessori, interaksi sosial bukan sekadar membuat anak berada di dalam kelompok. Anak juga belajar membangun hubungan melalui pengalaman nyata bersama orang lain.
Belajar Bersosialisasi Melalui Kehidupan Sehari-hari
Di dalam lingkungan Montessori, anak memiliki banyak kesempatan untuk belajar keterampilan sosial secara alami.
Mereka belajar menunggu giliran, berbagi ruang, berkomunikasi, meminta bantuan, menawarkan bantuan, mengamati orang lain, menghargai konsentrasi teman, dan menyelesaikan perbedaan kecil.
Semua itu tidak selalu terjadi dalam kegiatan yang secara khusus disebut sebagai “kegiatan sosialisasi”.
Terkadang, sosialisasi justru terjadi ketika seorang anak memperhatikan temannya bekerja.
Terkadang ketika ia meminta bantuan.
Terkadang ketika dua anak menemukan pekerjaan yang sama-sama menarik dan memutuskan untuk mengerjakannya bersama.
Bahkan ketika seorang anak memilih untuk bekerja sendiri, ia tetap berada dalam sebuah lingkungan sosial. Ia belajar memahami bahwa ada orang lain di sekitarnya, bahwa setiap orang memiliki ruang dan pekerjaan masing-masing, serta bahwa ia dapat terhubung dengan orang lain ketika ia siap.
Mandiri dan Bersama-sama Bukan Dua Hal yang Bertentangan
Kemandirian dan kemampuan bersosialisasi bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satunya.
Anak dapat belajar mandiri sekaligus belajar menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Hari ini, mungkin ia memilih bekerja sendiri dengan tenang.
Besok, ia mungkin mengajak temannya membuat sesuatu bersama.
Di kesempatan lain, ia mungkin hanya duduk dan mengamati pekerjaan temannya.
Semuanya adalah bagian dari proses perkembangan.
Montessori memberikan ruang bagi anak untuk berkembang dengan ritmenya sendiri, sekaligus menyediakan lingkungan yang memungkinkan interaksi dengan orang lain terjadi secara bermakna.
Karena hubungan sosial yang sehat tidak selalu dibangun dengan memaksa anak untuk terus berada dalam kelompok. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk merasa aman, mengenali dirinya, memahami batas dirinya, dan membangun kepercayaan diri dalam berinteraksi.
Di Numa, Kami Memberi Ruang untuk Keduanya
Di Numa Montessori Studio, kami percaya bahwa anak membutuhkan ruang untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri sekaligus bertumbuh bersama orang lain.
Ada saatnya anak bekerja sendiri.
Ada saatnya anak bekerja bersama.
Ada saatnya ia mengamati.
Ada saatnya ia berkomunikasi dan berkolaborasi.
Tidak semuanya harus terjadi dalam waktu yang sama, karena setiap anak memiliki kebutuhan, ketertarikan, dan ritme perkembangan yang berbeda.
Jadi, ketika melihat seorang anak sedang bekerja sendiri di kelas Montessori, jangan buru-buru menganggap bahwa ia sedang “tidak bersosialisasi”.
Mungkin saat itu ia sedang belajar berkonsentrasi, membangun kemandirian, dan mengenali dirinya sendiri.
Dan ketika waktunya tiba, ia akan memiliki kesempatan untuk menemukan caranya sendiri dalam terhubung dengan orang lain.
Karena tumbuh bersama tidak selalu berarti melakukan hal yang sama pada waktu yang sama.
Kadang, tumbuh bersama berarti memberikan ruang kepada satu sama lain untuk tumbuh dengan caranya masing-masing.